LEGENDA DESA WARUNGPRING

p_20161011_115520
Konon riwayat sejarah / legenda desa Warungpring dari para pendahulu menurut riwayat asal mula merupakan areal hutan rimba, padang ilalang yang tak ada penghuninya. Letak geografisnya terputus-putus antar gerombol pertanahan dan letak lokasinya naik-turun berliku-liku terhampar padang ilalang membentang dari utara barat ke selatan, dengan ketinggian dari permukaan laut + 590 m sebelah utara gunung slamet.
Konon riwayat sejarah sejak itu diperkirakan masa zaman kerajaan mataram (Raja Amangkurat II) terakhir sampai masa perang Pangran Diponegoro kurang lebih dari abad 17-19 (1825-1830)dikejar-kejar bala tentara Belanda, yaitu pangeran Amangkurat II dan Mangkubumi, Untung Suropati yang lari sampai ke Tegalarum yang tujuannya ke Cirebon.
Pada waktu itu termasuk pengikutnya Amangkurat II singgah / istirahat di daerah ini yang sekarang bernama Desa Warungpring yang akhirnya menetap di desa ini yang pertama masuk dari Selatan, diberinama nama Tegalharja, karena tujuan utama mau ke Tegal, naik ke Dusun Pamulian karena sebagian bala tentaranya pulang terus turun ke Gerombol tengah (diberi nama karangtengah). Karang artinya pekarangan terus keutara diberi nama desa Keputihan.
Karena Kian lama kian tambah penduduknya, maka lewat rembug masyarakatnya secara terbuka dibentuk suatu pemerintahan walaupun belum sempurna seperti sekarang. Pusat pemerintahan di Dukuh karangtengah (gerombol terpencil/ komplek utara SDN 05 Warungpring sekarang). Kepala Desa definitif sampai sekarang turun ke 12 (kecuali PJS 2x). Susunan pemerintagan pada zaman itu antara lain : lurah, bau, polisi desa, lebe, kebayan, dan ulu-ulu.
Berikut nama-nama kepala desa Warungpring :
1). Kerta Laksana
2). Jaya Laksana
3). Kerta Diwangsa
4). Bakhri
5). H. Ashari (zaman Belanda)
6). H. Sirad (zaman Belanda)
7). Dakup
8). Slamet  2 PJS Rasimun dan Darsono
9). Anwar Supadi
10). Roesbad
11). Untung
12). Saeful Azam

Mengapa diberi nama Desa “Keputihan” ? sebab konon riwayat yang berdomisili di Desa ini seorang ulama pengikut Pangeran Mangkubumi, Pasukan dari Pangeran Antawirya / (Pangeran Diponegoro). Akhirnya menetap di desa ini dengan nama Desa Keputihan. Adapun nama “Warungpring”, karena orang tersebut bersama keluarga disini sambil usaha kecil-kecilan warungan jajanan (dari bodin) dan mereka yang singgah karena warung tersebut semuanya dari bambu (memberinama “Warungpring”) demikian sekilas riwayat sejarah Warungpring.
Keputihan artinya suci. Orang tersebut seorang ahli syareat agama Islam konon dari daerah Wonosobo yang sampai sekarang ciri khas desa Warungpring kaumnya beragama Islam. Adapun daerahnya sekarang terbagi menjadi 5 perdusunan yaitu:
1). Dusun Warungpring
2). Dusun Gombong
3). Dusun Karangtengah
4). Dusun Pamulian
5). Dusun Tegalharja

Sampai sekarang masyarakatnya mutlak beragama Islam, patuh sama para ulama / kyai. Mata pencaharian penduduk bertani, berdagang, bidang jasa dan Pegawai Negeri.
Usia desa ini diperkirakan 4 abad. dan pendidikan masyarakatnya cukup maju, dari TK sampai banyak yang perguruan Tinggi. Pemeluk agama cukup memiliki potensi. Keadaan alam/bumi seisinya potensi letak geografis dengan ketinggian 590 m ada : hutan, sawah, ladang, air cukup, sumber daya manusia sebenarnya cukup kuantitatif, yang perlu dipacu adalah kualitas manusia selaku pelaku pembangunan masyarakat perdesaan khususnya generasi usia produktif. Demi terwujugnya masyarakat mandiri dan sejahtera.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*